Oleh: Dzikra Miftahulrizki dan Rianjani Rindu Rachmania
Staf Bidang Literasi dan Penulisan LK2 FHUI
“Matilah engkau mati, Kau akan lahir berkali-kali.”[1] Syair pembuka dalam buku berjudul Laut Bercerita karya Leila S. Chudori seakan-akan menjadi gerbang utama dari ribuan pertanyaan. Siapakah yang lahir berkali-kali setelah mati? Namun, terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa makna “lahir berkali-kali” dalam syair tersebut adalah lahir berkali-kali oleh kenangan.[2] Pada akhirnya, syair tersebut berusaha menunjukkan tentang apa yang akan berkali-kali lahir oleh kenangan pada ujung cerita.
Laut Bercerita merupakan karya Leila S. Chudori bergenre historical fiction yang terbit pada tahun 2017 silam. Berlatar tahun 90-an, tepatnya pada masa-masa reformasi, buku ini seakan-akan membawa pembacanya ikut berpetualang ke dalam perjalanan emosi. Perjuangan, keluarga, persahabatan, romansa, pertemuan, dan kehilangan semuanya dengan lengkap dikemas dalam buku ini.
Leila Salikha Chudori merupakan seorang perempuan dengan sejumlah karya yang berkelahiran di Jakarta pada 12 Desember 1962 dan melanjutkan pendidikannya di Trent University, Kanada. Segelintir karya yang telah ia terbitkan berawal dari karya yang dipublikasikan pada saat berusia 12 tahun. Karyanya yang berupa kumpulan cerpen berjudul Malam Terakhir telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman Die Letzte Nacht pada tahun 1989 dan kumpulan cerpennya yang berjudul 9 dari Nadira yang diterbitkan pada tahun 2009 telah mendapatkan penghargaan dari Badan Belanda. Tidak hanya itu, pada tahun 2012 ia menghasilkan novel berjudul Pulang yang kini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, seperti bahasa Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Novel tersebut tidak kalah membanggakannya karena memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 dan dinyatakan sebagai satu dari “74 Notable Translations od 2016” oleh World Literature Today.
Sihir yang dikemas dengan apik dalam Laut Bercerita berhasil membawa buku ini pada segelintir penghargaan. Buku ini berhasil mendapat penghargaan “Book of The Year” dari IKAPI Awards yang rutin diselenggarakan setiap tahun.[3] Tidak hanya itu, pada tahun 2020 buku ini juga berhasil mendapat penghargaan S.E.A Write Award.[4] S.E.A Write Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada penulis dan penyair di Asia Tenggara.[5] Selain penghargaan, kesuksesan Laut Bercerita juga membawa buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Penerbit Penguin Random House SEA dengan judul The Sea Speaks His Name. Hingga saat ini, novel Laut Bercerita telah diangkat menjadi film pendek berdurasi 30 menit yang disutradarai oleh Pritagita Arianegara dan dibintangi oleh Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Ayushita sebagai Asmara Jati, dan Dian Sastrowardoyo sebagai Anjani. Meskipun hanya berdurasi 30 menit, tetapi tidak berbeda dengan bukunya, film tersebut berhasil menyebabkan penonton mengalami pasang surut emosi.
Buku ini berisikan kisah kekejaman dan kebengisan yang dirasakan oleh kelompok aktivis mahasiswa di masa Orde Baru. Melalui novel yang berjudul Laut Bercerita, Leila Salikha Chudori seakan-akan berusaha membawa para pembacanya untuk ikut merasakan era-era reformasi di tahun 1998 yang penuh dengan kepahitan dan kekejaman bagi para pembela rakyat.[6] Tidak hanya membawa pembacanya pada pasang surut emosi, buku ini juga berisikan pengetahuan tentang keadilan sosial, prinsip demokrasi, dan sejarah pergerakan untuk mendukung Orde Baru. Oleh karena itu, selain berisikan pembelajaran hidup yang megah, buku ini juga memberikan pengetahuan mengenai sejarah kelam yang pernah dilewati bangsa ini.
Buku Laut Bercerita ini menuansakan suasana Indonesia pada masa Orde Baru. Kenyataan bahwa hilangnya demokrasi dan kebebasan berpendapat pada saat Orde Baru menjadi kesan yang ingin disampaikan dari penulisan buku ini. Hal ini diperkuat dengan berbagai pesan yang disampaikan melalui pengalaman-pengalaman para tokoh menghadapi rezim pemerintah yang otoriter. Alur cerita dikemas dalam bentuk keresahan para mahasiswa mengenai pengekangan pemerintah dalam kegiatan mahasiswa yang dicurigai ingin melakukan unjuk rasa. Pengekangan ini justru menjadi pemicu bagi mahasiswa kala itu untuk terus bergerak. Hal ini menjadi tanda bahwa ada yang tidak sesuai dalam pemerintahan sehingga terjadi pembungkaman pada pihak-pihak yang menyuarakan pikirannya.
Berbagai cerita dan awal dari perjalanan Laut dimulai melalui markas organisasi yang ia ikuti. Organisasi ini bernama Wirasena. Sebuah perkumpulan mahasiswa yang menjadikan ketidakadilan rezim pemerintah dalam demokrasi menjadi masalah yang ingin mereka tuntaskan. Berbagai rencana yang mereka susun bertujuan untuk membantu rakyat yang mengalami penindasan oleh rezim pemerintah kala itu. Salah satunya adalah Peristiwa Belangguan yang ditujukan untuk membela para petani jagung yang mengalami perebutan lahan jagung sepihak oleh rezim pemerintah. Dari sana, Laut dan teman-temannya pertama kali ditangkap akibat pergerakan yang mereka lakukan. Mereka diculik dan disiksa oleh para kaki tangan pemerintah akibat pembelaannya pada rakyat kecil.
Para oknum intelejen pemerintah menjadi momok bagi para mahasiswa dalam menyuarakan gagasannya. Sebuah diskusi buku antar mahasiswa dapat menjadi awal mula mereka masuk dalam pantauan pemerintah yang dapat mengakibatkan mereka diculik atau ditangkap. Hal ini menggambarkan betapa dikekangnya kegiatan mahasiswa karena dipercaya dapat menjadi aktor dalam melakukan perlawanan pada masyarakat kala itu. Suasana seperti itu yang menjadi latar perjalanan Laut dalam upaya mewujudkan pikirannya terhadap pemerintah. Berbagai kewaspadaan, pengkhianatan, pengawasan menjadi rasa yang setia menemani dalam berbagai kegiatan yang Laut dan teman-temannya jalani.
Penokohan dalam cerita ini memiliki dua tokoh sebagai pemeran utama. Mereka dijadikan sebagai sudut pandang cerita secara bergantian. Biru Laut adalah salah satu tokoh utama dalam cerita ini. Dirinya merupakan seorang mahasiswa yang cinta akan sastra. Kecintaannya terhadap buku membawa dirinya menemui berbagai buku yang memuat perlawanan terhadap rezim pada saat itu. Ia menemukan gagasan akan perlawanan terhadap kediktatoran pemerintah kala itu. Laut juga gemar berdiskusi dan mengulas buku yang sesuai dengan pemikirannya. Ia sangat keras kepala dalam melakukan perlawanan terhadap diktator pemerintah kala itu. Tokoh selanjutnya adalah Asmara Jati, ia merupakan adik dari Biru Laut. Seorang adik perempuan yang sangat berbeda dengan Laut. Ia lebih tertarik dalam ilmu sains. Namun, ia juga memiliki semangat juang yang serupa dengan Laut. Semenjak Laut menghilang tanpa kabar, Asmara melakukan aksi untuk menuntut kabar dari kakak dan aktivis lainnya kepada pemerintah. Ia mendirikan lembaga untuk menjadi wadah bagi para keluarga yang kehilangan anggotanya juga.
Perjuangan yang dilakukan oleh Laut disertai dengan seorang kekasih yang bernama Anjani. Seorang wanita yang digambarkan begitu kreatif dan pintar. Ia selalu mendukung Laut dengan kegemaran melukisnya. Lukisan yang selalu ia sematkan pesan perjuangan di dalamnya. Selain itu, Laut juga bertemu dengan teman sesama aktivis lainnya, yaitu Kinan, Daniel, Alex dan Gusti. Kinan adalah seorang wanita yang dianggap sebagai pemegang keputusan. Seringkali berbagai rencana dan diskusi ditutup dengan keputusan Kinan yang sangat realistis dan alasan yang sangat logis. Sementara Daniel, adalah seorang pria filsuf. Kepandaianya dalam berbicara membuatnya dikenal sebagai playboy. Selanjutnya sejoli Alex dan Gusti. Dua orang yang sangat mencintai seni. Kemampuan kedua nya dalam fotografi tidak perlu diragukan kembali. Namun, mereka dikenal akan cara kerja yang saling berlawanan. Alex selalu memilih momen yang tepat untuk dipotret, sementara Gusti menganggap semua momen adalah penting sehingga harus dipotret. Sayang sekali, Gusti ternyata adalah seorang pengkhianat yang menjual hasil foto yang ia punya kepada intelejen pemerintah. Meskipun memiliki perbedaan karakter dan kegemaran, para tokoh ini memberikan pengaruh pada jalan cerita perjuangan seorang Laut, sehingga memberikan sudut pandangan dan suasana baru dalam jalan ceritanya.
Buku ini juga memiliki alur yang unik di dalamnya, jalan cerita terbagi menjadi dua sudut pandang yang membawa suasana berbeda, yaitu perjuangan dan kehilangan. Cerita yang terbagi menjadi sudut pandang tokoh Laut dan Asmara yang merupakan dua kakak beradik. Perjuangan yang dimulai oleh Laut menceritakan berbagai kegiatannya menjadi seorang yang hidup dalam dunia sastra. Kecintaannya terhadap sastra membawanya membaca buku-buku yang memuat perlawanan terhadap rezim pemerintah. Diskusi buku menjadi kegiatan rutinnya ketika sedang ingin mengkaji suatu isu berdasarkan buku yang ia baca dengan teman-temannya. Ketertarikan Laut membawanya ikut dalam organisasi Winatra dan Wirasena, organisasi yang gemar berdiskusi seputar buku hingga isu menentang rezim pemerintah. Berbagai kegiatan yang ia dan teman-temannya gagas bermula pada diskusi kecil dalam organisasi tersebut. Organisasi tersebut menemukan Laut dengan berbagai orang yang memiliki isu perjuangan yang sama mengenai rezim pemerintah. Berbagai gagasan yang Laut buat tidak hanya berupa tulisan-tulisan pada media untuk menyampaikan pemikirannya. Hingga pada akhirnya membuahkan sebuah pergerakan mahasiswa yang ikut dalam perlawanan petani Belangguan akibat perampasan lahan oleh pemerintah. Ini menjadi alasan awal Laut dan teman-temannya ditangkap dan diawasi oleh pemerintah. Berbagai bentuk penindasan yang dilakukan dalam penangkapan tersebut menjadi pemicu pergerakan Laut dan kawan-kawannya selanjutnya. Pergerakan Laut dalam organisasi Winatra dan Wirasena membawa organisasi tersebut dicap berbahaya bagi pihak pemerintah. Hingga pada suatu saat terjadi penculikan terhadap Laut yang mengakhiri perjuangan nyatanya dalam menumpas rezim pemerintah.
Dalam bagian kedua, cerita berlanjut dalam sudut pandang tokoh Asmara. Dalam bagian sebelumnya, nuansa perjuangan yang dilakukan oleh Laut sangat dirasakan di setiap pergerakan yang ia lakukan. Sesekali, Penulis menceritakan kondisi pribadi dari Laut yang merasa jauh dari keluarganya. Hal ini diakibatkan waktunya habis dalam pergerakan mahasiswa bersama teman-teman seperjuangannya. Laut dan keluarganya memiliki tradisi untuk makan malam bersama setiap minggu dikala kesibukan masing-masing anggota keluarga. Namun, kesibukan Laut dalam dunia pergerakan mahasiswanya mengakibatkan hilangnya kebersamaan dalam tradisi keluarga tersebut. Tak disangka, hilangnya sosok Laut dalam keluarga terjadi selama-lamanya.
Selanjutnya, cerita dilanjutkan oleh Asmara sebagai pihak keluarga yang merasa kehilangan. Kehilangan anak laki-laki pertamanya yang memutuskan untuk merantau menyisakan duka mendalam bagi kedua orang tuanya. Ayah dari tokoh Laut masih terus menyediakan seporsi makanan setiap makan bersama keluarga dengan harapan anak pertamanya dapat kembali. Kisah Asmara menggambarkan bagaimana keluarga merasakan kehilangan akan Laut. Asmara beserta keluarga aktivis lainnya tidak tinggal diam dari hilangnya masing-masing anggota keluarga. Mereka melancarkan aksi unjuk rasa akan ketidakjelasan kabar dari keluarga mereka. Para keluarga tidak mengetahui apakah para aktivis ini hilang, ditangkap, atau bahkan dibunuh akibat aksi yang mereka lakukan. Asmara bersama teman-temannya mendirikan lembaga sebagai wadah bagi para keluarga yang anggotanya turut dihilangkan secara paksa oleh pemerintah.
Dalam perjalanan cerita, Laut menjadikan diskusi buku sebagai kegiatan rutinnya selama berada dalam organisasi Winatra. Diskusi yang disertai dengan pemikiran yang searah dari berbagai mahasiswa tersebut terfokus pada konsep perlawanan kepada kekuasaan pemerintah yang telah berjalan selama puluhan tahun ini. Diskusi-diskusi tersebut juga melahirkan berbagai pikiran yang dikemas dalam bentuk tulisan untuk dimuat dalam media cetak. Seiring berjalannya waktu, buah pemikiran diskusi tersebut menjadi suatu aksi nyata yang dilakukan dalam bentuk pergerakan mahasiswa. Sayangnya, diskusi tersebut bocor kepada intel pemerintah melalui sebuah pengkhianatan. Salah satu anggota organisasi telah membocorkan hasil diskusi dan rencana-rencana yang telah dipersiapkan oleh Laut beserta teman-temannya. Hal ini berujung pada penangkapan Laut dan teman-teman aktivisnya setelah melakukan Aksi Blangguan. Mereka diculik dalam perjalanan pulang ketika sedang berada di terminal. Mereka dibawa ke suatu tempat seperti markas tentara dan mengalami penindasan di dalam sana. Berbagai bentuk penyiksaan seperti dipukul, disetrum, dan disiram air panas mereka rasakan. Penyiksaan tersebut berjalan selama satu malam, mereka terus ditanya siapa yang mendalangi aksi yang mereka lakukan. Penculikan tersebut menjadi awal Organisasi Winatra masuk dalam pengawasan pemerintah. Semakin berjalan aksi yang dilakukan Laut, organisasi mereka semakin dicap berbahaya oleh pemerintah. Sampai akhirnya, mereka disekap dan disiksa kembali. Penyekapan kali ini tidak disertai dengan pengembalian para aktivis tersebut. Hingga saat ini mereka masih hilang tanpa kabar.
Melalui novel Laut Bercerita, dengan sangat jelas kita bisa melihat bahwa pada kala itu pelanggaran Hak Asasi Manusia (“HAM”) menjadi hal yang meradang di tanah air. Tidak hanya di novelnya saja karena pada kenyataannya di era tersebut terdapat sejumlah catatan hitam dalam ranah hukum dan HAM. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, HAM merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.[7] Sedangkan dalam instrumen hukum internasional, Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (“DUHAM”) disebutkan bahwa semua manusia dilahirkan merdeka dan memiliki martabat dan hak yang sama. Manusia dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.[8] Tidak hanya itu, berdasarkan konsideran International Covenant on Civil and Political Rights (“ICCPR”) yang telah diratifikasi ke dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005, menyatakan bahwa HAM merupakan hak-hak yang berasal dari martabat yang inheren atau melekat pada diri manusia.
Pengaturan HAM yang relevan dengan buku ini diatur oleh Konstitusi UUD 1945 dan diperinci lebih lanjut dalam undang-undang lainnya seperti UU No. 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya, UU No. 27 Tahun 1959 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi. Selama perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari masa Orde Baru hingga masa reformasi, Negara Republik Indonesia telah menghadapi berbagai peristiwa dan kejadian yang luar biasa atau menghadapi situasi darurat. Situasi darurat ini meliputi berbagai bidang, seperti politik, pertahanan, keamanan, ekonomi, moneter, serta situasi sosial yang diakibatkan oleh kerusuhan berdarah, ancaman bom, dan konflik horizontal di berbagai daerah. Situasi-situasi dan pelanggaran HAM yang terjadi pada kala itu digambarkan dengan sangat jelas dalam buku Laut Bercerita melalui kejadian-kejadian yang dialami para tokoh, seperti penyiksaan dan ancaman, pembunuhan, pembungkaman, dan Peristiwa Belangguan.[9]
Akhir cerita, kematian Laut menunjukkan bahwa bahkan tokoh utama juga mampu mendapatkan akhir cerita yang sangat tragis. Penyekapan dan pembungkaman yang kala itu dirinya hadapi, ternyata bukan tonggak awal untuk mendapatkan keadilan. Sebaliknya, justru menjadi gerbang awal menuju kematiannya. “Ke Laut, sesuai namamu. Ke kuburanmu!”, begitulah awal percakapan yang dialami Laut dengan salah satu intel sebelum dirinya dibawa menuju tempat bersenandungkan ribuan debur ombak yang pecah. Sejak saat itu, lautan menjadi rumah abadi sesuai dengan namanya, Laut. Ia ditembak mati dan dibungkam tidak hanya didaratan, tetapi hingga dasar laut. Akhir cerita bahwa pada kenyataannya Laut telah mati dipeluk kegelapan dan kesunyian tanpa diketahui keluarganya dan orang terdekat, mengajarkan betapa berdampaknya penghilangan paksa bagi sanak saudara korban pada saat itu. Tidak hanya di dalam novel ini, tetapi pada kenyataannya, keluarga korban mengalami penderitaan mental yang sangat lama karena tidak tahu apa yang telah terjadi pada anggota keluarga mereka, apakah mereka masih hidup atau telah meninggal. Ketidakmampuan untuk mengetahui apakah orang yang mereka cintai akan kembali atau tidak, menyebabkan para keluarga korban terus-menerus merasakan kesedihan yang menghantui. Ketidakpastian mengenai nasib anak-anak mereka mungkin telah menjadi titik akhir dari suatu perjalanan, tetapi satu hal yang pasti, ini bukanlah akhir dari kisah mereka.
“Peristiwa tak nyaman atau menyakitkan tidak perlu dihapus, tetapi harus diatasi,” begitulah bunyi salah satu percakapan dalam novel ini. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa pada akhirnya peristiwa yang kelam tidak bisa dihapus, tetapi harus diatasi. Begitu pula dengan sejarah kelam yang pernah menyelimuti bangsa ini. Akan tidak adil rasanya bagi keluarga korban dan pihak-pihak lain yang secara langsung terlibat apabila sejarah kelam tersebut dihapus. Oleh karena itu, melalui novel Laut Bercerita, kita tidak hanya mendapat hiburan dalam bentuk bacaan di waktu luang, tetapi juga pembelajaran dan pengetahuan mengenai awan hitam yang pernah menyelimuti bangsa ini. Sebagaimana novel ini dibuka oleh “matilah engkau mati, Kau akan lahir berkali-kali,” melalui novel Laut Bercerita, diharapkan catatan kelam yang dialami tanah air tidak terulang lagi. Biarkan sejarah ini menjadi catatan yang memberikan sebuah pelajaran besar, yang lahir berkali-kali melalui kenangan.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Chudori, Leila S. Laut Bercerita. Jakarta: PT Gramedia, 2022.
Riyadi, Eko. Hukum Hak Asasi Manusia: Perspektif Internasional, Regional dan Nasional. Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018.
JURNAL
Lestari, Dinda.“Pelanggaran HAM Dalam Novel Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori.” Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya. Vol. 8. No. 1 (2021). Hlm. 1280-1300.
PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Tentang Hak Asasi Manusia, UU Nomor 39 Tahun 1999, LN Tahun 1999 No. 165 TLN No. 3886.
INTERNET
Agnes, Tia. “Novel ‘Laut Bercerita’ Leila S Chudori Raih S.E.A. Write Award 2020 Baca artikel detikhot.” Detik.com, 15 Juni 2022. Tersedia pada https://hot.detik.com/book/d-5053952/novel-laut-bercerita-leila-s-chudori-raih-sea-write-award-2020 . Diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
Gramedia Blog. “Selamat! Laut Bercerita Meraih IKAPI Award Sebagai Book of The Year 2022.” Gramedia.com, 14 November 2022.Tersedia pada https://www.gramedia.com/blog/selamat-laut-bercerita-meraih-ikapi-award-sebagai-book-of-the-year-2022/ . Diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
Hutajulu, Putri Gemilang. “Laut Bercerita: Bagaimana Kata-Kata Menjadikan Roh Berbadan Kekal.” lpmperspektif.com, 13 Desember 2021. Tersedia pada https://lpmperspektif.com/2021/12/13/laut-bercerita-bagaimana-kata-kata-menjadikan-roh-berbadan-kekal/ . Diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
Sekretariat. “Para Peraih Ikapi Awards 2022.” ikapi.org, 21 November 2022. Tersedia pada https://www.ikapi.org/2022/11/21/para-peraih-ikapi-awards-2022/ . Diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
Talitha, Tasya. “Resensi Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.” Gramedia.com, Oktober 2022. Tersedia pada https://www.gramedia.com/best-seller/resensi-novel-laut-bercerita-karya-leila-s-chudori/ . Diakses pada tangal 25 Juli 2023.
[1]Leila S. Chudori, Laut Bercerita, (Jakarta: PT Gramedia, 2022), hlm. 1.
[2]Putri Gemilang Hutajulu, “Laut Bercerita: Bagaimana Kata-Kata Menjadikan Roh Berbadan Kekal,” lpmperspektif.com, 13 Desember 2021, tersedia pada https://lpmperspektif.com/2021/12/13/laut-bercerita-bagaimana-kata-kata-menjadikan-roh-berbadan-kekal/, diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
[3]Gramedia Blog, “Selamat! Laut Bercerita Meraih IKAPI Award Sebagai Book of The Year 2022,” gramedia.com, 14 November 2022, tersedia pada https://www.gramedia.com/blog/selamat-laut-bercerita-meraih-ikapi-award-sebagai-book-of-the-year-2022/, diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
[4]Gramedia Blog, “Selamat! Laut Bercerita Meraih IKAPI Award Sebagai Book of The Year 2022,” gramedia.com, 14 November 2022, tersedia pada https://www.gramedia.com/blog/selamat-laut-bercerita-meraih-ikapi-award-sebagai-book-of-the-year-2022/, diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
[5]Tia Agnes, “Novel ‘Laut Bercerita’ Leila S Chudori Raih S.E.A. Write Award 2020”, detik.com, 15 Juni 202, tersedia pada https://hot.detik.com/book/d-5053952/novel-laut-bercerita-leila-s-chudori-raih-sea-write-award-2020, diakses pada tanggal 25 Juli 2023.
[6]Tasya Talitha, “Resensi Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori,” gramedia.com, Oktober 2022, tersedia pada https://www.gramedia.com/best-seller/resensi-novel-laut-bercerita-karya-leila-s-chudori/, diakses pada tangal 25 Juli 2023.
[7]Undang-Undang Tentang Hak Asasi Manusia, UU Nomor 39 Tahun 1999, LN Tahun 1999 No. 165 TLN No. 3886, Pasal 1.
[8]Eko Riyadi, Hukum Hak Asasi Manusia: Perspektif Internasional, Regional dan Nasional, (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018), hal. 8
[9]Dinda Lestari, “Pelanggaran HAM Dalam Novel Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori,” Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya, Vol. 8, No. 1 (2021), hlm. 1295.