Sekelumit Kisah Dibalik Jalan Menuju DKI Jakarta 1

Genta demokrasi lagi-lagi bergema. Kali ini warga ibukota yang mendapat giliran menyelenggarakan pesta demokrasi daerah untuk memilih orang-orang yang dirasa layak untuk memimpin warga ibukota untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan performa sang ibukota yang sudah seharusnya bergengsi dari segi infrastruktur maupun masyarakatnya sebagai ibukota salah satu Negara terluas di dunia.

Jalanan yang hampir tidak pernah absen dari kemacetan.

Tubuh jalan yang tidak lagi memberi ruang untuk pejalan kaki.

Banjir yang tidak pernah mangkir untuk mengunjungi Jakarta.

Premanisme yang mengancam warga Jakarta dan menimbulkan kesan singa ompong bagi aparat keamanan ibukota.

Jakarta sebagai kota megapolitan, tapi apa iya harus sebanyak ini pusat perbelanjaan (baca: mall)?

Sebagai kota sarat cerita historis, mengapa justru pariwisata Jakarta tidak bergigi menyumbangkan pendapatan bagi daerahnya?

Ormas anarkis ada di Jakarta tanpa bisa diredam atau bahkan dihilangkan oleh pemerintah daerah?

Lalu, sebagai daerah ibukota yang kerap mendapat perhatian, bukankah tingkat pendidikan harusnya jauh lebih “super” dibandingkan daerah lainnya? Mengapa masih banyak anak putus sekolah?

Di atas ada sekelumit pertanyaan yang kira-kira menjadi crème de la crème dari permasalahan yang sekarang hadir di daerah ibukota. Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang seharusnya dijawab oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih nantinya agar persoalan lainnya yang merupakan turunan dari permasalahan yang tertuang di pertanyaan-pertanyaan tadi dapat teratasi pula.

Sudah lazim jika setiap ada pemilihan baik pemilihan umum maupun pemilihan umum kepala daerah, para calon menebar janji-janji yang dibungkus rapi dalam sampul berjudul visi dan misi.

Berikut kisah para calon gubernur yang sebagian besar mencuri perhatian dengan tindakan, catatan rekor, ataupun janjinya.

Calon yang pertama ialah Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin dengan pasangan calonnya Nono Sampono. Menyoroti Alex, dibalik catatan suksesnya memimpin Pemda Sumatra Selatan menyelenggarakan Sea Games, tersimpan bayang-bayang adanya dugaan korupsi, apalagi Alex saat ini masih belum bebas dari pemeriksaan KPK. Pasangan calon ini didukung Partai Golkar, PPP, PDS. Untuk calon wakilnya, kita sama-sama tahu ucapan Nono yang menimbulkan berbagai pendapat, “ Tahu Ali Sadikin? Ya, kami sama-sama Letjen”. Demikian dirinya membandingkan diri dengan mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin karena sama-sama Jendral bintang tiga dari Korps Marinir.

Faisal Basri dan Biem Benyamin hadir menambah daftar calon gubernur-wakil gubernur. Pasangan calon ini berani tampil walaupun datang dari jalur non-partai politik. Faisal Basri kerap mengkritisi kebijakan ekononomi pemerintah, tak heran sebab ia sendiri merupakan pengamat ekononomi. Ia menyelesaikan studi eknonominya dari Universitas Indonesia, namun tidak ada yang tahu bagaimana jika beliau nantinya akan berhadapan dengan carut-marutnya pemerintahan ibukota sekiranya terpilih.

Calon yang ketiga ialah Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama yang didukung Partai PDI-P dan Gerindra. Pasangan ini pasti sudah cukup akrab bagi warga Indonesia apalagi Jakarta. Pasangan yang akrab dipanggil Jokowi dan Ahok ini dikenal bersahaja, dengan kemeja kotak-kotaknya keduanya kerap menghadiri berbagai event di Jakarta guna mengakrabkan diri dengan warga ibukota. Sama halnya dengan Alex, Jokowi juga masih menjabat sebagai kepala daerah Solo, Jokowi  mendadak disoroti seiring dengan hangatnya fenomena mobil rakitan anak SMK yaitu mobil ESEMKA dimana ia sebagai salah satu pendukung sekaligus konsumen dari mobil rakitan tersebut. Namun berbagai spekulasi menimbulkan isu bahwa simpatinya terhadap program mobil ESEMKA hanya merupakan manuver politiknya untuk memantapkan rencana maju menjadi Calon Gubernur Jakarta.

Hendardji  Soepandji  dan Ahmad Riza Patria hadir sebagai calon independen alias tidak didukung secara khusus oleh partai politik manapun untuk maju sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur. Hendardji dikenal sebagai Ketua Umum Organisasasi Induk Karate FORKI. FORKI pada SEA Games di Palembang beberapa waktu yang lalu mengukir prestasi luar biasa dengan menyumbangkan emas terbanyak bagi Indonesia.

Calon yang kelima ialah mantan Ketua MPR sekaligus mantan presiden PKS, Hidayat Nur Wahid dengan calon wakilnya Didik J Rachbini. Siapa yang tidak kenal Hidayat Nur Wahid, dengan pengalamannya di bidang politik terutama di parpol PKS, beliau jelas menjadi calon yang populer di mata masyarakat Jakarta. Pasangan calon ini didukung oleh Partai Politik PKS.

“Serahkan Pada Ahlinya”. Mendengar slogan ini sebagai warga Jakarta pasti sudah bisa menebak siapa calon yang memopulerkannya, ya, slogan ini seolah-olah melekat dengan kandidat yang satu ini: Fauzi Bowo, dengan calon wakilnya Nachrowi Ramli. Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke dan calon wkailnya didukung oleh Partai Politik Demokrat. Foke masih “percaya diri” untuk maju setelah sebelumnya sudah pernah terpilih menjadi Gubernur Jakarta yang masih menjabat hingga sekarang.

Di balik cerita singkat pasangan calon gubernur dan calon wakilnya ini, masih tersimpan berbagai intrik politik yang kerap diberitakan oleh media massa, mulai dari Jokowi yang berpendapat agar jalur busway padat penumpang diganti rail bus, Alex Noordin yang berniat mempraktekkan trik sekolah dan pengobatan untuk rakyat seperti yang dilakukannya di Palembang, Faisal Basri yang dikenal dengan kebersahajaannya, hinggaFoke yang berpendapat bahwa masalah banjir tidak dapat diselesaikan dengan instan.

Diskusi rutin kali ini pun turut memunculkan wacana baru, secara moral, apakah tindakan Alex dan Jokowi, yang masih merupakan pemimpin di daerah lain yang mencalonkan diri menjadi pemimpin Jakarta, tidakkah menciderai kepercayaan dan simpati pendukung masing-masing di daerah asalnya?

Kalkulator publik yaitu dalam hal ini lembaga survey maupun survey dari berbagai media massa kerap melemparkan statistik simpati masyarakat Jakarta dengan hasil yang beragam untuk tiap calon. Namun tetap, control untuk pesta demokrasi daerah ini ada di tangan masing-masing pemilih yang seharusnya objektif dalam memilah calon yang sesuai untuk Jakarta baik dari catatan rekor maupun idealisme pemikirannya.